Dari Sawah di Desa Kidang hingga S3 di Jepang, Inilah Kisah Perjuangan Ratna Sari, Anak Petani Lombok yang Meraih Beasiswa MEXT

 Ratna Sari bersama kedua orang tua dan saudara (IG @nanaaas04)
Ratna Sari bersama kedua orang tua dan saudara (IG @nanaaas04)

LOMBOK TENGAH, INFO LOMBOK – Tidak pernah ada dalam bayangan Ratna Sari kecil bahwa suatu hari ia akan meninggalkan kampung halamannya di Kidang, Praya Timur, Lombok Tengah, untuk menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral di Jepang.

Dulu, dunianya sederhana. Sepulang sekolah, ia bermain bersama teman-teman dan sesekali ikut ayahnya ke sawah. Di bawah terik matahari, ia melihat sendiri bagaimana kedua orang tuanya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan tiga anak mereka.

Kini, di usia 25 tahun, Ratna justru sedang memulai babak baru dalam hidupnya sebagai mahasiswa S3 di Kanazawa University, Jepang, setelah berhasil mendapatkan MEXT Scholarship, beasiswa penuh dari Pemerintah Jepang.

Perjalanan itu tidak lahir dari keluarga berada. Sebaliknya, Ratna tumbuh dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya hanya lulusan SD. Keduanya bekerja sebagai petani dan menjalankan usaha demi memastikan anak-anak mereka tetap bisa bersekolah.

Namun, keterbatasan pendidikan orang tua tidak pernah menjadi batas bagi mimpi anak-anaknya.

“Orang tua saya mungkin tidak bisa mewariskan kekayaan. Mereka hanya bisa menginvestasikan saya dengan pendidikan. Dan bagi saya, itu adalah warisan terbesar yang pernah mereka berikan,” kata Ratna.

Panas Sawah yang Menjadi Awal Sebuah Mimpi

Ratna masih mengingat bagaimana dirinya sejak kecil kerap diajak ayah ke sawah sepulang sekolah.

Ia merasakan panasnya matahari sekaligus melihat langsung betapa sulitnya mencari uang untuk membiayai kehidupan dan pendidikan keluarga.

Pengalaman sederhana itu perlahan membentuk cara pandangnya.

“Saya tidak mau selamanya merasakan panasnya sawah. Saya harus belajar dan sukses, supaya suatu hari bisa membuat hidup orang tua saya lebih ringan,” kenangnya.

Ayahnya juga kerap menjadikan keberhasilan beberapa sepupunya sebagai contoh. Ada yang menjadi dokter, dosen, polisi hingga perawat. Dari situlah Ratna mulai membangun keyakinan bahwa dirinya juga bisa memiliki masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.

Bukan berarti ia ingin meninggalkan kehidupan desa. Justru dari desa itulah ambisinya tumbuh.

Belajar Mandiri Sejak SMP

Setelah menyelesaikan SD di Kidang, Ratna melanjutkan pendidikan di SMP 2 Praya.

Jarak sekolah yang cukup jauh membuatnya harus tinggal sendiri selama tiga tahun. Di usia yang masih muda, ia mulai belajar mengurus kehidupannya sendiri, mulai dari memasak hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ada pula masa ketika ia merasakan homesick dan harus beradaptasi jauh dari keluarga.

Setelah SMP, Ratna sempat mencoba mendaftar ke salah satu SMA favorit. Namun, ia tidak lolos.

Kegagalan itu menjadi salah satu pengalaman awal yang mengajarkannya bahwa satu pintu yang tertutup bukan berarti perjalanan harus berhenti.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMA 4 Praya.

Selama SMA, Ratna mulai aktif mengikuti organisasi, les akademik dan berbagai kegiatan. Dari sana, keberaniannya untuk mencoba hal-hal baru semakin tumbuh.

Merantau ke Bandung dan Hampir Menyerah

Setelah lulus SMA, Ratna memberanikan diri keluar dari Lombok.

Ia diterima di Telkom University Bandung, mengambil program Teknik Telekomunikasi International Class.

Namun, memasuki dunia perkuliahan justru menghadirkan tantangan besar.

Seluruh mata kuliah di kelasnya menggunakan bahasa Inggris. Sementara itu, Ratna berasal dari sekolah biasa di Lombok dan merasa kemampuan bahasa Inggrisnya masih jauh dari cukup.

Ia bertemu teman-teman yang berasal dari sekolah internasional dan lingkungan pendidikan yang berbeda.

Rasa minder pun muncul.

Ratna bahkan sempat menangis dan berpikir untuk pindah ke kelas reguler karena merasa tidak mampu mengikuti perkuliahan.

Namun, dukungan teman-temannya membuat ia memilih bertahan.

Ia kemudian mengambil les bahasa Inggris setiap libur kuliah dan terus belajar sedikit demi sedikit.

“Dari situ saya belajar bahwa saya mungkin belum bisa sekarang, tetapi bukan berarti saya tidak akan bisa,” ujarnya.

Di sisi lain, ada perjuangan lain yang tidak kalah besar.

Pendidikan S1 Ratna sepenuhnya dibiayai orang tuanya. Biaya kuliahnya bahkan mencapai belasan juta rupiah setiap semester dan kelas internasional yang ia jalani memiliki biaya sekitar dua kali kelas reguler.

Bagi keluarganya, angka tersebut bukan sesuatu yang kecil.

Namun, kedua orang tuanya tidak pernah membuat Ratna merasa bahwa mimpinya terlalu mahal.

Setiap kali ada kesempatan belajar, pesan yang ia rasakan dari orang tuanya sederhana: coba saja.

Dari Bandung hingga Korea Selatan

Kesempatan demi kesempatan mulai datang.

Ratna pernah mengikuti Summer School di Hanyang University, Korea Selatan. Di sana ia mengikuti berbagai proyek dan kegiatan bersama profesor.

Bagi Ratna, kesempatan tersebut semakin membuka pandangannya bahwa dunia pendidikan jauh lebih luas dari yang selama ini ia bayangkan.

Ia kemudian menyelesaikan pendidikan S1 di Telkom University dalam waktu 3,5 tahun.

Setelah itu, langkahnya kembali membawanya ke Jepang.

S2 di Jepang Membuka Mimpi S3

Ratna melanjutkan pendidikan S2 melalui Double Degree Program Telkom University–Kanazawa University, Jepang.

Pengalaman tinggal dan belajar di Jepang mengubah cara pandangnya.

Ia bertemu dengan banyak peneliti, mahasiswa PhD dan orang-orang dari berbagai latar belakang. Lingkungan tersebut membuatnya mulai bertanya kepada dirinya sendiri:

“Ternyata saya juga bisa melanjutkan sampai S3.”

Sebelumnya, Ratna tidak pernah benar-benar membayangkan dirinya menjadi mahasiswa doktoral.

Ia hanya ingin terus belajar dan memanfaatkan kesempatan yang ada.

Namun, semakin lama berada di lingkungan akademik Jepang, ketertarikannya terhadap dunia riset semakin kuat. Ia mulai membayangkan masa depan sebagai researcher dan dosen.

Gagal MEXT, Lalu Mencoba Lagi

Keinginan melanjutkan S3 kemudian membawanya mendaftar MEXT Scholarship melalui jalur University Recommendation.

Prosesnya tidak mudah.

Ratna harus menyiapkan berbagai dokumen, research plan, mencari profesor yang sesuai dengan bidang penelitiannya, hingga mempersiapkan wawancara.

Ia bahkan harus meyakinkan profesor bahwa penelitian yang dirancangnya layak untuk dikembangkan.

Pada percobaan pertama, Ratna gagal.

Kegagalan itu tentu mengecewakan. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bahan evaluasi.

Ia memperbaiki kekurangan dan kembali mempersiapkan diri setelah menyelesaikan S2.

Untuk kedua kalinya, Ratna mencoba.

Dan kali ini, kabar yang ditunggu akhirnya datang.

Ratna dinyatakan lolos MEXT Scholarship untuk melanjutkan S3 di Kanazawa University.

“Rasanya campur aduk antara tidak percaya, lega, dan sangat bersyukur. Hal pertama yang saya pikirkan adalah orang tua saya,” katanya.

Ia teringat semua pengorbanan ayah dan ibunya yang membiayai pendidikan sejak S1.

“Akhirnya, saya bisa melanjutkan pendidikan tanpa lagi membebani mereka,” ujarnya.

Bagi Ratna, MEXT bukan sekadar beasiswa.

Itu adalah pengingat bahwa kegagalan pertama bukan akhir dari perjalanan.

Kadang seseorang hanya perlu berani mencoba sekali lagi.

Meneliti IoT, AI, dan Sinyal dari Tanaman

Di Kanazawa University, Ratna akan mengembangkan penelitian yang masih berkaitan dengan latar belakangnya di bidang telekomunikasi dan IoT, tetapi kemudian diarahkan lebih jauh ke AI dan Machine Learning.

Secara sederhana, ia ingin mengembangkan sistem IoT yang lebih cerdas dan hemat energi dengan memanfaatkan sinyal listrik alami dari tanaman dan teknologi AI.

Harapannya, teknologi tersebut nantinya dapat digunakan untuk memantau kondisi lingkungan, mendeteksi perubahan atau kondisi tidak normal, sekaligus mendukung pengembangan teknologi monitoring yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Bagi Ratna, target S3 bukan sekadar memperoleh gelar doktor.

Ia ingin menghasilkan penelitian yang benar-benar memiliki manfaat.

Dalam jangka panjang, ia ingin menjadi dosen dan peneliti yang tidak hanya melakukan riset, tetapi juga berbagi ilmu, membimbing mahasiswa dan menciptakan teknologi yang dapat digunakan masyarakat.

Berat Meninggalkan Orang Tua

Di balik pencapaian akademiknya, ada bagian paling emosional dari perjalanan Ratna: meninggalkan keluarga.

Sebelum kembali ke Jepang, Ratna sempat pulang ke Lombok selama sekitar tiga minggu dan menghabiskan waktu bersama orang tua.

Namun, waktu bersama keluarga akhirnya harus berakhir.

Ia kembali harus meninggalkan Lombok untuk memulai perjalanan sebagai mahasiswa PhD.

“Jujur, rasanya campur aduk. Sedih, berat, tapi juga ada rasa syukur dan bangga,” tuturnya.

Saat berpamitan di bandara, ingatannya kembali pada masa kecil: sawah, panas matahari, dan perjuangan kedua orang tuanya.

Ia sadar, keberangkatannya ke Jepang bukan karena ingin jauh dari keluarga.

Ia pergi karena ingin memperjuangkan mimpi yang juga menjadi harapan orang tuanya.

“Mungkin setiap kali saya pergi, yang paling berat bukan meninggalkan rumahnya, tapi meninggalkan orang-orang yang selalu menjadi alasan saya untuk pulang,” kata Ratna.

Pesan orang tuanya sebelum berangkat pun sederhana:

“Jaga diri baik-baik, belajar yang rajin, jaga kesehatan, jangan kecewakan profesor kamu yang sudah mau menerima kamu dan memilih kamu untuk menerima beasiswa itu, dan jangan lupa pulang.”

Tidak Takut Bermimpi karena Berasal dari Desa

Ratna ingin kisahnya menjadi pesan bagi pelajar dan mahasiswa Lombok yang merasa mimpi mereka terlalu tinggi.

Menurutnya, keterbatasan ekonomi memang dapat membuat perjalanan lebih sulit, tetapi bukan berarti kesempatan tidak ada.

Ia sendiri pernah berada dalam posisi tersebut.

Anak dari keluarga petani di sebuah desa di Lombok, kuliah di Bandung, mendapat kesempatan belajar di Korea Selatan, melanjutkan S2 di Jepang, gagal mendapatkan MEXT pada percobaan pertama, kemudian kembali mencoba hingga akhirnya mendapatkan beasiswa penuh untuk S3.

“Saya juga pernah gagal masuk SMA yang saya inginkan, pernah merasa tidak mampu saat kuliah, bahkan pernah gagal mendapatkan MEXT. Tapi ternyata, kegagalan tidak menentukan sejauh apa seseorang bisa melangkah,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta generasi muda tidak buru-buru mengubur mimpi hanya karena keadaan hari ini.

“Kita tidak harus lahir dari keluarga berada untuk punya masa depan yang besar. Pendidikan bisa menjadi salah satu jalan untuk membuka pintu-pintu yang bahkan tidak pernah kita bayangkan.”

Ingin Pulang Membawa Ilmu

Setelah menyelesaikan S3, Ratna ingin menjadi dosen dan peneliti di bidang IoT, AI dan teknologi.

Jika mendapat kesempatan, ia juga ingin kembali berkontribusi di Lombok.

Ilmu dan pengalaman yang diperoleh di Jepang ingin ia bawa ke lingkungan akademik di daerah, melalui penelitian, kolaborasi dengan universitas, membimbing mahasiswa, maupun berbagi pengalaman mengenai studi dan beasiswa luar negeri.

Ia juga ingin mendorong mahasiswa Lombok agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menciptakan solusi teknologi untuk daerahnya sendiri.

“Kalau suatu hari ilmu yang saya dapatkan dari Jepang bisa kembali dan memberi manfaat untuk Lombok, itu akan menjadi salah satu bentuk keberhasilan yang paling berarti bagi saya,” katanya.

Pesan untuk Ratna Kecil

Jika suatu hari Ratna bisa kembali bertemu dengan dirinya ketika masih duduk di bangku sekolah, ia tahu apa yang ingin disampaikan.

Kepada anak perempuan dari sebuah desa kecil di Lombok yang saat itu belum tahu akan dibawa sejauh apa oleh pendidikan, ia ingin berkata:

“Jangan takut bermimpi hanya karena kamu belum tahu bagaimana cara mencapainya.”

Ratna tahu perjalanan itu tidak akan selalu mudah.

Akan ada kegagalan, rasa takut, minder, air mata dan masa ketika keadaan membuat seseorang merasa tidak cukup pintar atau tidak cukup mampu.

Tetapi ia juga belajar bahwa seseorang tidak harus menunggu rasa takut hilang untuk mulai melangkah.

Ia hanya perlu terus belajar, mencoba dan berani mengambil kesempatan.

Karena bertahun-tahun kemudian, anak perempuan yang dulu merasakan panasnya sawah sepulang sekolah itu akhirnya berdiri di tempat yang mungkin tidak pernah ia bayangkan: meninggalkan Lombok untuk menempuh pendidikan doktoral di Jepang dengan beasiswa penuh.

Dan semua itu bermula dari sebuah keyakinan sederhana: pendidikan bisa mengubah kehidupan.

“Perjalanan dari Lombok hingga S3 di Jepang mengajarkan saya bahwa setiap langkah, perjuangan, dan keberanian untuk terus mencoba pada akhirnya akan membawa kita lebih jauh dari yang pernah kita bayangkan.”

Ditulis oleh

Info Lombok

Editor Info Lombok News