LOMBOK UTARA, INFO LOMBOK - Putra Pandanan FC meminta Ketua PSSI Kabupaten Lombok Utara mengambil langkah tegas, objektif, dan bijaksana dalam menyikapi berbagai keributan yang terjadi dalam pelaksanaan Liga 4 Piala Bupati Lombok Utara.
Putra Pandanan FC menilai ketegasan diperlukan bukan semata untuk menghukum satu pihak, tetapi untuk menjaga wibawa kompetisi, melindungi pemain dan perangkat pertandingan, serta mencegah insiden serupa kembali terjadi pada pertandingan berikutnya.
Menurut Putra Pandanan FC, setiap tindakan yang mengganggu jalannya pertandingan, masuk ke area lapangan tanpa kewenangan, melakukan intimidasi, ataupun membahayakan pemain dan perangkat pertandingan harus ditindak berdasarkan regulasi kompetisi dan hasil technical meeting yang telah disepakati bersama.
Official Putra Pandanan FC, Abed Aljabiri Adnan, mengatakan Ketua PSSI Lombok Utara memiliki posisi penting dalam memastikan Liga 4 Piala Bupati KLU tetap menjadi kompetisi yang sehat dan berwibawa.
“Kami berharap Ketua PSSI Kabupaten Lombok Utara mengambil keputusan yang bijak tetapi tetap tegas. Bijak bukan berarti membiarkan pelanggaran, justru ketegasan yang berdasarkan aturan adalah bentuk keadilan bagi seluruh klub peserta,” tegas Abed.
Abed menambahkan, pemberian sanksi yang jelas dibutuhkan untuk menciptakan efek jera kepada siapa pun yang membuat keributan dan mengancam keamanan pertandingan.
“Kalau tindakan yang mengganggu keamanan dibiarkan tanpa sanksi yang sepadan, maka akan menjadi preseden buruk. Orang akan merasa bebas membuat keributan karena menganggap tidak ada konsekuensi. Kami ingin Liga 4 ini menjadi ruang prestasi, bukan ruang intimidasi,” lanjutnya.
Putra Pandanan FC juga meminta PSSI Kabupaten Lombok Utara bersama panitia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan, pengawasan pertandingan, serta penerapan sanksi terhadap pelanggaran berat.
Menurut Putra Pandanan FC, keputusan yang diambil harus berdasarkan bukti, keterangan perangkat pertandingan, dokumentasi, serta regulasi yang berlaku, sehingga tidak melahirkan anggapan bahwa panitia maupun PSSI berpihak kepada klub tertentu.
Putra Pandanan FC menegaskan bahwa sikap tersebut bukan untuk memperpanjang konflik, melainkan untuk memastikan setiap klub memperoleh perlakuan yang sama dan kompetisi dapat berjalan dengan aman.
“Kami menghormati PSSI sebagai otoritas sepak bola di Kabupaten Lombok Utara. Karena itu kami meminta keputusan yang tegas, transparan, dan berkeadilan. Siapa pun yang membuat keributan harus mendapatkan konsekuensi agar menjadi pelajaran bagi semua pihak,” tutup Abed.





