Kisah Inspiratif Marsya Rouna, Guru Asal Lombok yang Dulunya Dilarang Merantau, Kini Jadi Pengajar Bahasa Indonesia di Amerika

Marsya Rouna Billauri (IG @marsyarouna)
Marsya Rouna Billauri (IG @marsyarouna)

Info Lombok – Siapa sangka, impian seorang gadis asal Mataram yang sempat pupus karena dilarang merantau kini justru membawanya mengajar di salah satu universitas ternama di Amerika Serikat. Dialah Marsya Rouna Billauri, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Mataram yang kini menginspirasi banyak anak muda di Nusa Tenggara Barat.

Marsya mengaku sejak lulus SMA pada 2017 sebenarnya ingin melanjutkan kuliah di Jakarta. Ia ingin merasakan hidup mandiri sekaligus memperluas wawasan melalui pengalaman merantau. Namun, keinginan itu harus dikubur karena orang tuanya belum mengizinkan anak perempuan mereka tinggal seorang diri di luar daerah.

Sebagai perempuan yang tumbuh dalam budaya Lombok, Marsya juga merasakan kuatnya peran anak perempuan sebagai penjaga keluarga. Kondisi itu membuatnya memilih tetap kuliah di Lombok dan masuk Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Mataram.

Meski gagal merantau, Marsya tidak membiarkan mimpinya berhenti. Ia aktif mengikuti berbagai organisasi kampus, menjadi tutor bahasa Inggris, hingga mulai mencari pengalaman di luar perkuliahan.

“Saya ingin menjadi ikan besar di kolam yang lebih besar,” ujarnya menggambarkan tekadnya untuk terus berkembang.

Semangat itu membawanya menjadi Finalis Duta Bahasa NTB 2020, Duta Damai Dunia Maya, Kejar Mimpi Ambassador by CIMB Niaga, hingga Duta Kampus Merdeka melalui Program Kampus Mengajar Batch 1.

Setelah lulus pada 2021, Marsya mengajar bahasa Inggris secara daring di sebuah platform pendidikan yang berbasis di Jakarta. Ia juga sempat menjadi guru taman kanak-kanak internasional di Jakarta Selatan.

Pengalaman itulah yang justru menjadi nilai lebih saat mengikuti seleksi program Fulbright. Siapa sangka, guru TK asal Lombok tersebut akhirnya dipercaya menjadi pengajar Bahasa Indonesia di University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat.

“Saya memperkenalkan diri sebagai guru TK, tetapi nasib malah membawa saya mengajar Bahasa Indonesia di University of Wisconsin-Madison,” kenangnya.

Sebelumnya, Marsya juga pernah mengajar di Australia. Baginya, kemampuan berbahasa Inggris menjadi pintu yang membuka berbagai kesempatan yang dulu terasa mustahil.

Kini, setelah kembali ke Indonesia pada awal Juni 2026, Marsya tengah membangun kembali platform pendidikan Samakita.education. Platform tersebut tidak hanya akan menyediakan kelas bahasa Inggris, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman, mentoring, serta diskusi bagi para calon guru dan lulusan pendidikan bahasa yang ingin mengembangkan karier, termasuk peluang mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri.

Menurutnya, ide tersebut lahir dari pengalaman pribadinya yang tumbuh tanpa panutan di bidang pendidikan bahasa dalam keluarga.

“Saya ingin lulusan Pendidikan Bahasa Inggris tahu bahwa pilihan karier mereka tidak hanya menjadi guru bahasa Inggris di Indonesia, tetapi juga bisa mengajar Bahasa Indonesia di berbagai negara,” katanya.

Marsya berharap kisahnya dapat menjadi penyemangat bagi generasi muda NTB agar berani bermimpi lebih besar. Ia juga mengajak anak-anak muda untuk tidak takut keluar dari zona nyaman demi belajar dan mengembangkan diri, sebelum kembali membangun daerah asal.

Ia mengaku seluruh pencapaiannya tidak lepas dari doa kedua orang tua serta dukungan Pemerintah Provinsi NTB melalui program Rumah Bahasa yang pernah memberinya akses belajar dan tes bahasa Inggris secara gratis.

“Belajar bahasa asing seharusnya tidak menjadi barang mewah. Saya ingin setiap anak NTB memiliki kesempatan yang sama, karena kemampuan berbahasa Inggris telah membuka jalan saya dari gerbang rumah di Bendega hingga mengajar di Australia dan Amerika Serikat,” tutupnya.

Ditulis oleh

Info Lombok

Editor Info Lombok News