Kisah Inspiratif Andi, Anak Peternak dari Desa Montong Tangi Lombok Timur, Raih Dua Gelar Master di Eropa, Kini Bekerja di Australia

Foto: Dok. Pribadi Andi
Foto: Dok. Pribadi Andi

Info Lombok - Bagi sebagian orang, mimpi untuk menempuh pendidikan hingga ke luar negeri mungkin terasa terlalu jauh. Namun, bagi Andi, pemuda asal Desa Montong Tangi, Kecamatan Sakra Timur, Lombok Timur, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Lahir dari keluarga petani dan peternak sederhana, Andi menghabiskan masa kecilnya dengan membantu kedua orang tuanya di sawah dan kandang ayam. Pergi ke Kota Mataram pun kala itu menjadi sesuatu yang jarang dilakukannya.

Namun, kehidupan di pelosok desa tidak membuatnya berhenti bercita-cita.

“Bagi saya saat itu tidak pernah terpikirkan untuk merantau. Pergi ke kota besar seperti Kota Mataram saja sangat jarang, mungkin hanya setahun sekali. Jadinya akses informasi sangat terbatas,” kenangnya.

Titik balik dalam perjalanan hidup Andi terjadi pada 2013. Setelah lulus SMA, ia memberanikan diri meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Keputusan tersebut tidak lepas dari dukungan kedua orang tuanya. Sang ayah hanya lulusan SMA, sementara ibunya lulusan SD. Namun, keduanya memiliki keyakinan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan bagi anaknya untuk meraih masa depan yang lebih baik.

“Bagi orang tua saya, pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya. Apa pun untuk pendidikan pasti diusahakan,” tuturnya.

𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐒𝐚𝐫𝐣𝐚𝐧𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐢 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚

Perjuangan Andi di dunia pendidikan perlahan membuahkan hasil. Di jenjang S1, ia berhasil meraih penghargaan sebagai salah satu mahasiswa berprestasi sekaligus lulusan terbaik.

Kesempatan kemudian membawanya lebih jauh. Andi mendapatkan beasiswa Pemerintah Provinsi NTB melalui program Beasiswa NTB untuk melanjutkan pendidikan magister di Nicolaus Copernicus University, Polandia.

Tidak berhenti di sana, ia kembali mendapatkan Erasmus Scholarship dan melanjutkan pendidikan di Angers University, Prancis, dengan mengambil bidang International Marketing.

Perjalanan tersebut membuat Andi menjadi orang pertama di keluarga besarnya yang meraih gelar sarjana sekaligus orang pertama dari kampungnya yang menyelesaikan pendidikan S2 di luar negeri.

𝐓𝐢𝐠𝐚 𝐉𝐚𝐦 𝐍𝐚𝐢𝐤 𝐊𝐞𝐫𝐞𝐭𝐚 𝐃𝐞𝐦𝐢 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐭 𝐉𝐮𝐦𝐚𝐭

Hidup dan belajar di Eropa tentu bukan perkara mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi, termasuk persoalan kehidupan sebagai seorang Muslim.

Saat berada di Polandia, salah satu tantangan terbesar Andi adalah mencari masjid untuk melaksanakan salat Jumat.

Untuk menuju masjid terdekat, ia harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam menggunakan kereta api dari Kota Torun menuju Poznan.

Sementara ketika berada di Prancis, tantangan terbesar justru datang dari persoalan bahasa. Banyak pekerjaan paruh waktu mensyaratkan kemampuan bahasa Prancis sehingga membuatnya kesulitan mencari pekerjaan tambahan.

Pengalaman tersebut justru memperkaya cara pandangnya terhadap kehidupan.

𝐌𝐢𝐦𝐩𝐢 𝐀𝐮𝐬𝐭𝐫𝐚𝐥𝐢𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐰𝐮𝐣𝐮𝐝

Setelah menyelesaikan pendidikan di Prancis, Andi sebenarnya memiliki kesempatan untuk mengajukan visa kelulusan dan mencari pekerjaan di negara tersebut.

Namun, sebelum menyelesaikan studinya, ia terlebih dahulu memperoleh visa kerja ke Australia. Kesempatan itu akhirnya membawanya memilih Australia sebagai tempat melanjutkan perjalanan hidup.

Ada empat alasan utama yang membuatnya memilih Negeri Kanguru.

Pertama, Australia merupakan salah satu mimpi masa kecilnya. Bahkan pada 2013, setelah lulus SMA, ia sempat berencana kuliah di Australia. Rencana tersebut gagal karena keterbatasan informasi.

Kedua, tingkat pendapatan di Australia relatif tinggi. Ketiga, Australia lebih dekat dengan Indonesia dibandingkan Eropa. Dari Bali menuju Sydney, perjalanan udara hanya sekitar enam jam.

Keempat, Australia menurutnya cukup ramah bagi umat Muslim.

Andi kini tinggal di kawasan Bankstown, Sydney, yang banyak dihuni komunitas dari negara-negara Muslim seperti Pakistan, India, Bangladesh, Malaysia, Indonesia dan negara lainnya.

“Masjid bertebaran lebih dari dua lokasi di setiap distrik. Bahkan di tempat saya bekerja ada musala untuk Muslim,” katanya.

𝐃𝐮𝐚 𝐏𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚𝐚𝐧, 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐒𝐨𝐚𝐥 𝐆𝐞𝐧𝐠𝐬𝐢

Saat ini Andi bekerja di Tip Top Bakeries Sydney. Namun, setelah menyelesaikan pekerjaan utamanya, ia masih melanjutkan aktivitas sebagai pengemudi layanan antar makanan.

Biasanya, ia bekerja sebagai pengemudi ojek online selama beberapa jam setelah pulang kerja. Pada akhir pekan, waktunya bisa lebih panjang.

Bagi Andi, bekerja sebagai pengemudi layanan antar bukan sesuatu yang perlu dipermalukan meski dirinya telah memiliki dua gelar master.

Menurutnya, budaya kerja di Australia membuat seseorang tidak mudah dinilai hanya berdasarkan jenis pekerjaannya.

“Di Australia hampir semua pekerjaan itu sama. Tidak ada diskriminasi terhadap pekerjaan tertentu,” ujarnya.

Pengalaman tumbuh di keluarga petani dan peternak juga membuat Andi terbiasa dengan kerja keras.

“Saya lahir dan bertumbuh kembang di kampung yang terbiasa hidup dengan bekerja keras. Ketika merantau ke negara orang, sudah terbiasa dengan berbagai jenis pekerjaan,” katanya.

𝐆𝐚𝐣𝐢 𝐁𝐞𝐬𝐚𝐫, 𝐁𝐢𝐚𝐲𝐚 𝐇𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐉𝐮𝐠𝐚 𝐓𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢

Andi mengingatkan bahwa kehidupan di Australia tidak sesederhana gambaran tentang bekerja di luar negeri dengan gaji besar.

Menurutnya, besarnya pendapatan berjalan beriringan dengan tingginya biaya hidup.

Untuk tempat tinggal saja, pengeluaran rata-rata dapat mencapai sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per minggu, tergantung lokasi.

Sementara kebutuhan hidup seorang lajang dapat mencapai sekitar Rp20 juta hingga Rp50 juta per bulan.

“Gajinya besar, tetapi biaya hidup juga tinggi. Sangat sesuai antara gaji dan biaya hidup,” jelasnya.

Karena itu, menurut Andi, seseorang yang ingin bekerja di luar negeri harus memahami bukan hanya nominal gaji, tetapi juga biaya hidup, budaya, lingkungan dan tantangan yang akan dihadapi.

𝐋𝐨𝐦𝐛𝐨𝐤 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐓𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐏𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠

Belasan tahun merantau membuat Andi memiliki pandangan yang lebih luas mengenai kehidupan. Ia pernah tinggal di Yogyakarta, Polandia, Prancis hingga Australia.

Namun, sejauh apa pun perjalanan membawanya pergi, Lombok tetap menjadi tempat untuk pulang.

“Lombok adalah tempat terbaik untuk pulang,” katanya.

Baginya, dukungan keluarga menjadi salah satu faktor terpenting yang membuatnya berani meninggalkan kampung halaman dan mengejar pengalaman di berbagai negara.

Merantau juga mengajarkannya untuk melihat perbedaan, memahami perjuangan dan tidak takut keluar dari zona nyaman.

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐓𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐆𝐚𝐠𝐚𝐥

Di balik berbagai pencapaiannya, perjalanan Andi ternyata dipenuhi kegagalan.

Ia pernah gagal menjalankan bisnis, gagal mendapatkan beasiswa, gagal melamar pekerjaan hingga pernah ditipu rekan bisnis.

Namun, semua kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti.

Justru dari kegagalan itulah ia belajar bahwa keberhasilan tidak selalu datang melalui jalan yang lurus.

“Jangan pernah menyerah. Saya yang lahir dari pelosok desa bisa membuktikan bahwa anak desa juga bisa sukses,” tegasnya.

Andi memilih memanfaatkan usia 20 hingga 30 tahun sebagai masa untuk mencoba banyak hal. Ia belajar hingga larut malam, bekerja 12-16 jam sehari, menjalankan bisnis sampingan dan terus melakukan berbagai aktivitas positif.

“Bagi saya, masa muda adalah masa terbaik untuk mengukir sejarah kehidupan kita,” katanya.

𝐏𝐞𝐫𝐡𝐚𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐧𝐠𝐤𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧𝐦𝐮

Jika diberi kesempatan bertemu kembali dengan Andi yang masih duduk di bangku SMAN 1 Sakra, ada satu pesan yang ingin ia sampaikan:

“Perhatikan lingkunganmu.”

Andi percaya lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan.

Ia menggunakan sebuah pepatah untuk menggambarkannya: ketika seseorang berteman dengan penjual parfum, ia akan ikut mencium aroma parfum. Sebaliknya, berteman dengan penjual ikan membuat seseorang bisa ikut berbau ikan.

Menurut Andi, memilih lingkungan pertemanan merupakan bagian penting dalam perjalanan menuju kesuksesan.

Ia menyebut adanya crab mentality, yakni kondisi ketika seseorang justru merasa tidak senang melihat orang lain maju dan berusaha menariknya kembali.

Namun, pesan Andi bukan sekadar tentang menjauhi orang lain. Lebih dari itu, ia ingin anak muda berani memilih lingkungan yang mendorong mereka berkembang.

Dari sawah dan kandang ayam di Montong Tangi, Andi membuktikan bahwa titik awal seseorang tidak menentukan sejauh mana ia bisa melangkah.

Ia pernah gagal, pernah kehilangan kesempatan dan harus bekerja keras. Tetapi satu hal yang tidak pernah ia lakukan adalah berhenti mencoba.

Kisah Andi menjadi pengingat bagi anak-anak muda Lombok bahwa mimpi besar tidak harus dimulai dari tempat yang besar. Kadang, mimpi itu justru tumbuh dari sebuah desa kecil, dan dari keberanian untuk mengambil langkah pertama.

Ditulis oleh

Info Lombok

Editor Info Lombok News