Lombok Barat, Info Lombok – Polemik pemberitaan dugaan kekerasan terhadap santri yang menampilkan visual Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny, Desa Kediri, Kabupaten Lombok Barat, dalam salah satu tayangan berita televisi nasional akhirnya menemukan titik terang.
Penyelesaian persoalan tersebut dilakukan melalui pertemuan silaturahmi antara perwakilan tvOne bersama keluarga besar Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny pada Minggu, (19/7). Dalam pertemuan itu, pihak tvOne menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan penggunaan visual dalam tayangan berita yang sebelumnya menuai keberatan dari pihak pesantren.
Koresponden tvOne, Herman Zuhdi, bersama tim serta pengurus Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Nusa Tenggara Barat hadir langsung dalam pertemuan tersebut. Silaturahmi itu turut dihadiri pengasuh pondok pesantren, pimpinan, para masyayikh, Tuan Guru, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB, serta perwakilan alumni dari kabupaten/kota se-NTB.
Dalam kesempatan tersebut, Herman Zuhdi menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan dan kekeliruan redaksi dalam pemberitaan yang menggunakan visual Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny.
Menurutnya, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pihaknya agar lebih meningkatkan ketelitian dalam proses produksi dan penyajian informasi kepada masyarakat.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan pemberitaan yang terjadi. Hal ini menjadi evaluasi bagi kami agar ke depan dapat lebih teliti dan berhati-hati dalam menyajikan informasi,” ujar Herman Zuhdi.
Sebagai bentuk tanggung jawab untuk memulihkan nama baik Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny, pihaknya juga telah melakukan penghapusan atau takedown terhadap dua tayangan berita yang sebelumnya viral. Selain itu, permohonan maaf secara terbuka juga telah disampaikan melalui siaran berita tvOne.
Herman mengatakan, pihaknya juga akan memberitakan proses penyelesaian tersebut serta memberikan ruang klarifikasi kepada pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny agar masyarakat mendapatkan informasi yang lebih lengkap dan berimbang.
Tidak hanya itu, Direktur tvOne juga dikabarkan akan melakukan kunjungan langsung ke Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny pada akhir Juli mendatang sebagai bagian dari penyelesaian persoalan tersebut.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny, TGH Mukhlis Ibrahim, mengapresiasi langkah tvOne yang datang secara langsung untuk menyampaikan permohonan maaf dan melakukan klarifikasi bersama para tokoh pesantren serta alumni.
Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi jalan penyelesaian terbaik setelah sebelumnya pemberitaan tersebut menimbulkan keresahan bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny.
“Alhamdulillah, hari ini kami telah melakukan pertemuan bersama kru tvOne, para masyayikh, tuan guru, dan perwakilan alumni. Mereka telah menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan dalam pemberitaan tersebut,” kata TGH Mukhlis Ibrahim.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi pembelajaran bersama, khususnya bagi insan pers agar lebih cermat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
“Harapannya ke depan pemberitaan dapat dilakukan dengan lebih baik, karena kesalahan dalam penyampaian berita bisa menimbulkan keresahan. Dengan adanya permohonan maaf ini, kami berharap persoalan ini menjadi solusi terbaik bagi semua pihak,” ujarnya.
Sejalan dengan pertemuan tersebut, Ponpes Al-Ishlahuddiny juga menerbitkan maklumat resmi yang ditujukan kepada jamaah, alumni, simpatisan, dan santri yang menegaskan bahwa Pihak Ponpes secara berlapang dada telah menerima permohonan maaf yang disampaikan oleh pihak TV One atas kekeliruan teknis pemberitaan yang sempat terjadi.
Ponpes juga memberikan Imbauan untuk tidak melakukan aksi unjuk rasa, atau tindakan lain dalam bentuk apa pun yang mengatasnamakan Pimpinan maupun Ponpes terkait masalah ini dan selalu Menjaga Kedamaian, Keamanan dan Ketertiban Umum.
Dengan adanya pertemuan dan klarifikasi tersebut, kedua pihak berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara baik. Selain memulihkan nama baik Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny, penyelesaian ini juga menjadi pengingat bagi insan pers untuk selalu mengedepankan akurasi, verifikasi, dan kehati-hatian dalam menjalankan tugas jurnalistik sesuai Kode Etik Jurnalistik.
Berikut versi yang dibagi menjadi empat paragraf dengan dua pernyataan dan dua kutipan.
Ketua IJTI NTB, Riadis Sulhi, menyambut baik proses islah dan klarifikasi yang ditempuh sebagai langkah penyelesaian persoalan secara persuasif. Menurutnya, penyelesaian melalui dialog dan tabayun menjadi cara yang tepat untuk menjaga hubungan baik antarpihak.
“Alhamdulillah, dengan bersilaturahmi dan bertabayun, semuanya menjadi lebih mudah,” ujar Riadis Sulhi.
Ia juga mengapresiasi sikap terbuka pihak yayasan dan pengurus pondok pesantren yang telah menerima proses klarifikasi serta permintaan maaf dengan penuh kelapangan hati. Menurutnya, sikap tersebut menjadi fondasi penting dalam menyelesaikan persoalan secara damai.
“Terima kasih kepada pihak yayasan dan pengurus pondok pesantren yang berlapang dada menerima klarifikasi serta permintaan maaf ini. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak sekaligus menjadi langkah untuk semakin mempererat silaturahmi ke depan,” tutupnya.






