INFO LOMBOK - Kegagalan tidak membuat Muhammad Farid Firdaus menyerah. Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Mataram itu justru menjadikan setiap proses sebagai bekal untuk terus berkembang hingga akhirnya terpilih sebagai anggota Gita Bahana Nusantara (GBN) 2026, mewakili Provinsi Nusa Tenggara Barat pada peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Istana Negara.
Farid, sapaan akrabnya, merupakan pemuda asal Kota Mataram yang telah mencintai dunia tarik suara sejak kecil. Namun, ia mulai serius menekuni paduan suara ketika duduk di bangku kelas 1 SMA di SMAN 1 Mataram. Di sekolah, ia aktif sebagai anggota sekaligus Wakil Ketua Ekstrakurikuler Paduan Suara.
Berbagai prestasi pun berhasil ia ukir, mulai dari Juara 1 Vokal Solo Putra FLS2N 2024 tingkat Kota Mataram hingga sederet prestasi bersama tim paduan suara, seperti Juara 1 Lombok Creativity Festival (LCF) 2023, Juara 2 MIPA Expo Universitas Islam Bandung 2024, dan kembali meraih Juara 1 pada LCF 2024.
Namun, perjalanan menuju Istana Negara bukanlah sesuatu yang diraih dengan mudah.
Farid mengaku pertama kali mengenal Gita Bahana Nusantara pada 2024 dari dua sahabatnya, Pramesti Dyah Pitaloka dan Josefina Alexandra Virena. Saat itu, kedua rekannya berhasil lolos ke tingkat provinsi, sementara dirinya harus menerima kenyataan tersingkir lebih awal.
Kegagalan tersebut sempat membuatnya putus asa. Meski begitu, dukungan dari keluarga, teman-teman, dan lingkungan sekitarnya membuat semangatnya kembali bangkit.
Pada seleksi GBN 2025, Farid berhasil menembus tingkat provinsi dan meraih Juara 3 kategori suara Tenor. Hasil itu menjadi titik balik yang membuatnya semakin percaya diri untuk mengejar impian tampil di Istana Negara.
Selama setahun berikutnya, ia bersama Pitaloka dan Alexandra berlatih hampir setiap hari, bahkan di sela-sela ujian kuliah. Latihan dilakukan dari pagi hingga malam demi mempersiapkan diri menghadapi seleksi nasional.
Menurut Farid, tantangan terbesar dalam audisi adalah sesi membaca prima vista, yakni kemampuan membaca notasi musik yang belum pernah dilihat sebelumnya.
“Karena kita tidak pernah tahu not seperti apa yang akan diberikan. Prima vista biasanya menjadi penentu apakah peserta bisa lolos ke tingkat nasional atau tidak,” ujarnya.
Kerja keras selama tiga tahun akhirnya membuahkan hasil. Saat namanya diumumkan sebagai wakil NTB, Farid mengaku tak mampu menyembunyikan rasa haru.
“Saya benar-benar tidak berekspektasi tinggi karena merasa pesaing saya sangat hebat. Ketika nama saya dipanggil, saya kaget, lemas, dan tidak menyangka bisa lolos bersama teman-teman latihan saya sejak awal mengikuti audisi GBN,” tuturnya.
Ia menyebut keberhasilannya tidak lepas dari peran kedua pelatihnya, Kak Yaning (GBN 2014) dan Kak Yudha (GBN 2016), yang dengan sabar membimbing sejak awal. Selain itu, dukungan orang tua, sahabat, dan rekan-rekan latihan menjadi sumber semangat yang membuatnya terus bertahan hingga akhirnya berhasil.
Kini, Farid akan mengharumkan nama NTB bersama tiga wakil lainnya di Istana Negara. Ia pun berharap kisah perjuangannya dapat memotivasi generasi muda Lombok agar tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan.
“Tetap berlatih dan jangan patah semangat. Kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal menuju kesuksesan,” pesannya.





