LOMBOK TIMUR, INFO LOMBOK – Langkah Firman Azali, mahasiswa asal Desa Batunampar, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, kembali menembus panggung internasional. Setelah sebelumnya membawa nama Lombok dalam ajang internasional di Bangkok, Thailand, tahun lalu, Firman kini mengikuti ASEAN University Network (AUN) Summer Camp 2026 di Universiti Malaya (UM), Malaysia.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu mengikuti program pada 1–12 September 2026. Mengusung tema “Blue Horizons: Advancing Sustainable Oceans”, kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa dan delegasi dari 11 negara Asia untuk membahas keberlanjutan laut, perubahan iklim, biodiversitas, bioteknologi, hingga pembangunan berkelanjutan.
Bagi Firman, AUN Summer Camp bukan sekadar kesempatan belajar di luar negeri. Para peserta diajak melihat langsung kondisi lingkungan, melakukan observasi, mengidentifikasi persoalan, berdiskusi mengenai akar masalah, hingga mencari gagasan dan solusi bersama.
Belajar dari Pesisir, Mengingat Lombok
Dalam rangkaian kegiatan, Firman berkesempatan mengamati lingkungan pesisir di kawasan Tanjung Tuan dan Port Dickson, mengikuti kegiatan di Blue Lagoon, serta mengunjungi Port Dickson Ornamental Fish Centre. Dari sana, ia mempelajari berbagai aspek biodiversitas laut, ekosistem pesisir, konservasi dan edukasi lingkungan.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat kepeduliannya terhadap keberlanjutan laut. Sebagai pemuda yang tumbuh di Lombok dan dekat dengan wilayah pesisir, Firman merasa persoalan laut yang ditemuinya di Malaysia memiliki kaitan erat dengan kehidupan masyarakat di daerah asalnya.
Menurutnya, menjaga laut bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat, pariwisata, ekonomi dan masa depan generasi mendatang.
“Saya berasal dari Lombok dan tumbuh dekat dengan laut. Ketika mengikuti kegiatan di Port Dickson dan melihat langsung kondisi ekosistem pesisir, saya seperti diajak melihat kembali persoalan yang juga ada di daerah saya sendiri,” ujar Firman.
Membawa Perspektif Al-Qur’an tentang Lingkungan
Menariknya, Firman tidak hanya membawa perspektif sebagai pemuda asal daerah pesisir, tetapi juga sebagai mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Dalam berbagai diskusi, ia memperkenalkan perspektif ecotheology, yakni hubungan antara agama, manusia dan alam.
Salah satu konsep yang menjadi perhatiannya adalah manusia sebagai khalifah fil ardh. Menurut Firman, konsep tersebut tidak semata-mata memberikan manusia hak untuk memanfaatkan alam, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutan bumi.
“Dalam Al-Qur’an, manusia disebut sebagai khalifah di bumi. Bagi saya, konsep ini mengingatkan bahwa manusia bukan hanya memiliki hak untuk memanfaatkan alam, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya,” jelasnya.
Dari perspektif tersebut, Firman melihat bahwa persoalan keberlanjutan laut tidak cukup dibahas hanya melalui sains, teknologi atau kebijakan. Menjaga laut juga merupakan persoalan etika dan tanggung jawab moral manusia terhadap lingkungan.
Kenalkan Budaya Sasak di Forum Internasional
Tak hanya membawa gagasan tentang lingkungan, Firman juga membawa identitas daerahnya ke forum internasional. Pada closing ceremony AUN Summer Camp 2026, ia mengenakan pakaian adat Sasak untuk memperkenalkan budaya Lombok kepada para delegasi dari 11 negara Asia.
“Ketika kita berada di forum internasional, kita tidak harus meninggalkan identitas daerah. Justru saya ingin menunjukkan kepada teman-teman dari 11 negara Asia bahwa saya datang dari Lombok, membawa budaya, pengalaman dan cerita dari daerah saya,” ungkapnya.
Bagi Firman, berada di forum internasional bukan sekadar tentang kesempatan untuk pergi ke luar negeri. Lebih dari itu, ia ingin membawa sesuatu dari daerah asalnya untuk dibagikan kepada dunia.
“Kita bisa belajar dari dunia, tetapi pada saat yang sama kita juga punya sesuatu dari daerah yang bisa kita bagikan kepada dunia,” tuturnya.
Dari Batunampar, Membawa Nama Lombok ke Dunia
AUN Summer Camp 2026 menjadi pengalaman internasional kedua bagi Firman setelah sebelumnya mengikuti ajang internasional di Bangkok, Thailand. Jika pengalaman di Thailand memberinya ruang untuk berkompetisi dan meraih penghargaan, pengalaman di Malaysia memberinya kesempatan lebih luas untuk belajar, berdiskusi dan bertukar perspektif dengan mahasiswa dari berbagai negara.
Kini, dari Batunampar, Lombok Timur, Firman kembali melangkah ke ruang internasional. Ia tidak hanya membawa nama Lombok, tetapi juga membawa cerita tentang laut, lingkungan, budaya Sasak dan perspektif keislaman ke tengah forum mahasiswa Asia.
Ia berharap pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi.
“Saya ingin pengalaman ini tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Mudah-mudahan apa yang saya pelajari bisa saya bawa pulang, saya bagikan kepada teman-teman, dan suatu saat bisa kembali berkontribusi untuk Lombok,” harapnya.





